02.24.04 (12:24 am)


sebidang tanah, sebangun rumah   [edit]
jurangmangu

JUNI 2003

Setelah menikah, kupilihkan Jurang Mangu sebagai tempat tinggal untuk kekasihku. Di sana aku berencana menapaki hidupku bersamanya, dan anak-anak yang terlahir dari rahimnya --insyaa'a allah. Kupilihkan Jurang Mangu sebab di sana lah pertama kali kukenal sunnah. Lingkungan pelajar dengan komunitas yang nyaris homogen ! Mahasiswa. Homogen, sebab kebanyakan dari mereka adalah pencinta pustaka. Sebab sejauh yang kukenal, mereka adalah orang-orang yang bersemangat baja. Entahlah kebenarannya. Setidaknya, itulah yang kutahu.

Sebuah rumah kecil kupilih sebagai tempat kuberbulan madu dengan kekasihku. Pintu paling ujung dari deret enam rumah petak berwarna hijau di jalan Kalimongso. Tempat yang dapat menghalangi pandangan, tempat yang dapat menjadi perlindungan dari terik mentari di siang hari dan hawa dingin di malam hari. Tempat, yang di dalamnya kubenahi

sebuah penawaran

Oktober 2003
Aku sangat menimati hari-hariku di Jurangmangu. Semoga demikian halnya dengan istriku. Masjid yang dekat dan telah menjadi sangat akrab, yang selama tiga tahun selalu kulewati menuju kampusku. Dan aku tidak bermaksud meninggalkannya. Hingga datanglah waktu.
Ketika sebuah tawaran untuk menempati sebangun rumah yang membuatku harus berpindah. Meninggalkan segala kenangan yang adalah bagian dari nafasku. Aku menerimanya.




02.12.04 (8:37 pm)


bekal menuju kematian   [edit]
Rabu
malam, jam 10 lebih.

Masih di Cikarang.
Aku belum
bisa tertidur juga.

Malam ini
nafasku terasa berat, dan aku agak terbatuk-batuk.Mungkin
karena baygon yang kupasang. Tapi kalau tidak pasti nyamuk datang menyerang.
Semakin hari mustinya semakin manusia sadar bahwa kematian bisa menjemput kapan
saja. Oleh karena itulah manusia musti segera berbekal. Bekal iman dan amal
shalih, serta hati yang lurus.

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Asy-syu’ura 88-89).


Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk
orang-orang yang merugi.
Yaa Allah,
jadikanlah hamba orang yang menjaga shalat.
Yaa Allah,
wafatkanlah hamba dalam keadaan sebaik-baik amal.
Wahai pencipta
langit dan bumi, wahai pemilik ‘arsy yang agung, hamba-Mu memohon dengan setulus
hati, janganlah Engkau sempurnakan rizkiku sebelum dapat membayar utang pada
saudara-saudaraku.




02.12.04 (7:58 pm)


pentingkah kesiapan ?   [edit]
Catatan kecil di masa lalu.





Aku kembali teringat akan apa yang pernah kutuliskan di masa-masa kekhawatiran yang memuncak. Kekhawatiran akan apa saja yang telah dapat kupersiapkan untuk sebuah pernikahan. Sebuah pilihan yang akan sangat berpengaruh terhadap diriku di masa-masa mendatang. Sebab pilihan ini bisa jadi akan menentukan bagaimana akan terbentuk sebuah keluarga di masa yang akan datang.
Pernah kusebut kata-kata untuk meyakinkan diri, Persiapan bukanlah penentu datang-tidaknya apa yang telah menjadi ketetapan. Ah bukan, bukan satu ketetapan. Ketetapan hanya milik rabbku. Tidak akan terjadi segala apa yang direncanakan manusia jika Allah pemilik `arsy yang agung berkehendak lain.

Rencana itu telah bulat. Telah terencana saat-saat yang bisa jadi adalah awal bagi bersatunya dua insan oleh takdir, ketetapan penguasa alam semesta. Kesiapanku tidak menjadi sebab datang atau tidaknya saat itu. Siap atau tidak, saat itu akan tetap datang menghampiri.

Jakarta, 9 Juni 2003




02.12.04 (4:26 am)


lelaki adalah sebingkai lukisan   [edit]





Keriput di wajah lelaki
merupakan guratan pemandangan indah
garis halus itu kesulitan dan penderitaan hidup
garis kasar itu adalah kerja keras dan jerih payah

Waktu telah menggilas masa muda
menggilas tawaria dan kesenduan
berpuluh musim menampung segala
terpaan sinar matahari dan guyuran hujan
semua itu menyatu menjadi aneka warna pekat
memulas sepanjang perjalanan hidup manusia

Saat awal menggoreskan kuas di kanvas
hanyalah sebuah aliran sungai jernih saja
kian trejalin dan mencuat menjadi gunung tinggi perkasa
dan pohon besar yang menghutan

Keriput di wajah lelaki
merupakan lukisan lelaki dewasa penuh toleransi
sosok angkuh tak mudah menitikkan air mata itu
dengan mengoles segala kesal dan beban
dalam sebuah lukisan abstrak tak terbaca

Yang ada mungkin
sebuah lukisan cat air yang mudah luntur
atau mungkin pula
lukisan implisit nan lembut dari tinta China

Luka silang menyilang dalam mataku
adalah lukisan cat minyak yang bergemuruh terpana
saat menikmatinya
mengguncang hati, menggetar jiwa.

Jeanne L. Yap
Lelaki adalah Sebingkai Lukisan
Antologi Puisi Dwi Bahasa (Mandarin-Indonesia)
Alih Bahasa: Wilson Tjandinegara
Komunitas Sastra Indonesia
2001




02.12.04 (4:18 am)


ingin berteduh di bawah atap rumahmu   [edit]






Diri ini ingin berteduh di bawah atap rumahmu
bagai laki-laki yang pulang dari perjalanan jauh
untuk istirah.

Dada dihempas angin pegunungan
Tengadah menantang padangmu
Hijau sekali.

Lewat pendakian di bengkolan
Senyum manis di gumam terbenam
Aku ingin berteduh di bawah atap rumahmu.

1961

Rusli Marzuki Saria
PAREWA
Sajak dalam Lima Kumpulan (1960-1992)




02.11.04 (1:18 am)


my CAZA suki experience   [edit]
Horeeeeee.........

siang ini makan siang gratis ditraktir boss. uhuy !!!
kumpul di lobby.

mobil bos gak muat, naik taxi. uhuy....... nikmatnya hidup kalau serba gratis yah ? kendaraan warna pink yang aku lebih suka menyebutnya silver queen meluncur mengitari lapangan banteng menuju bayoran lama. hmmmmph.... macet.

Akhirnya, setelah satu jam perjalanan sampai di tujuan. CAZA suki buffet !!!
Kulihat menunya : Waaaaaa mentah semua :(
Bayangkan, aku dari kantor dah berharap terhidang makanan yang segar, hangat, dan berkuah, sampai di sana yang kutemui berjajar bahan makanan yang kesemuanya MENTAH !

Hue........ aku laparz
Untung gratis. Masak mau makan malah suruh masak sendiri. Aku membayangkan nikmatnya warteg yang tinggal mesen ini itu dan bisa makan sambil jegang (mengangkat kaki ke atas bangku [kursi panjang dibuat dari kayu]). Di sini, aku musti memanggang semuanya sendiri. Ikan, ati, daging, sosis, dan semuanya.... harus kumasak sendiri.

Yang lebih parah dari semua itu, bumbunya lho :oops: hmmmmmmmmh rasa apa ini ? Akhirnya aku menyerbu apa yang menurutku paling cocok rasanya. Dan nyaris tidak berubah rasa. Nasi putih.

Kutemukan yang lain, buah. Yang ini memang tetap enak walau masih mentah. Pipis. dll.

Aku trauma.
Aku tak kan pernah mau ke sana.
Lagi. :!:




02.10.04 (4:11 am)


idz nata'allama alislaama fii awwalihi   [edit]
Pendahuluan
Saudaraku, pernahkah engkau mengalami keadaan di mana sesuatu yang teramat sangat engkau sayangi dirusak orang ? Tentu tidak terkira rasa sakit dalam hatimu bukan ? Lantas apa yang kemudian engkau lakukan terhadap orang perusak itu ? Memukulnya ? Membalas kerusakan terhadapnya ? Atau bahkan memutuskan hubugnan sama sekali dengannya ?
Sabar dulu saudaraku, jangan terburu nafsu.

Sobatku, kita adalah muslim (semoga Allah memberi petunjuk kepada semua orang untuk memeluk dien yang syamil ini). Sejak kecil kita tahu bahwa diri kita muslim karena terlahir dalam lingkungan muslim. Ayah ibu kita muslim, kakek, nenek, dan saudara-saudara kita muslim.

Sejak kecil kita diajari bahwa Allah lah pencipta langit, bumi, alam semesta. Termasuk di dalamnya manusia yang dimuliakan sebagi penguasa, tumbuhan yang senantiasa bermanfaat baginya, hewan yang sangat menakjubkan, dan sebagainya.

Syukur
Kita diajari oleh orang tua kita untuk selalu bersyukur akan nikmat dan karunianya yang kita dapati. Sebagai wujud syukur serta ketundukan kepada Yang Mahaesa kita diajarkan untuk mendirikan shalat, melatih kesabaran dengan shaum, membersihkan harta dengan menunaikan zakat, dan kegiatan ibadah lainnya.
Akan tetapi konsentrasi pembahasan kali ini bukan pada permasalahan syukur. :lol:

Kewajiban Manusia

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Muslim dari Thalhah bin Ubaidillah, sesungguhnya seorang lelaki dusun peminat sastra datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata,

"Rasulullah, beritahukan tentang puasa-puasa yang diwajibkan Allah kepadaku."
"Puasa di bulan Ramadhan, kecuali jika engkau mau menambahi dengan yang sunnah," jawab Rasulullah.
"Beritahuaku, zakat apa saja yang diwajibkan Allah kepadaku ?"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menerangkan semua ajaran syari'at Islam, terutama yang menyangkut zakat.
"Demi Allah yang telah memuliakan engkau, kalau begitu aku tidak mau menambahi dan mengurangi sedikitpun dari apa yang telah Allah wajibkan kepadaku." katanya.

Sepeninggal lelaki dusun tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
.َاف 14;لحَ إِن صَد 14;قَ و أُد 82;ِلَ الج 14;نَّ& #1577;َ إِن صَد 14;قَ
Ia beruntung kalau benar (mengerjakannya), dan ia akan masuk surga juga kalau benar (mengerjakannya).




02.10.04 (1:36 am)


aku serupa beringin (?)   [edit]
ketika itu....

malam kian larut, tapi kantuk belum juga membuat mataku terpejam
apalah yang lebih berat daripada beban yang ada dalam hati dan fikiran
adakah ?

manakala manusia telah berbicara tentang segala pahit getir hidup yang dijalani
tiada yang dapat menghentikan selain buah yang manis lagi memabukkan
manakala orang mengeluh akan seluruh apa yang ia korbankan
tidak akan datang kepuasan sebelum tercapai apa yang menjadi dambaan

ketika mereka tersadar
bahwa tidak semua tumbuhan bisa berbuah
dan tidak selamanya kasih sayang berjawab sama
....................
bagaimana jadinya
bila ia adalah seribu kata yang tak terucap ?

beringin...
ia tak dapat memberi harum wangi kembang setaman
ia tak mampu persembahkan lezat nikmat buah perasan
.
ia hanya menampakkan keangkuhan yang dengan keangkuhannya seolah hendak membelah langit
ia dengan sulurnya seolah ingin merenggut segala apa yang tidak ia punya

tapi tahukah engkau ?
ia dapat melindungimu dari panas terik matahari
ia sanggup memberimu segar udara di kala panas membakar bumi
dan
ia bersedia menjadi saksi betapa kalian adalah
pemilik belas kasihan
pemberi cinta yang tak pudar
pemilik harapan yang tak kan hilang




02.09.04 (9:27 pm)


whaaa... SDB-ku ilang !!!   [edit]
Hari Selasa, 10 Desember 2004.

Di laci mejaku ada duit buat persiapan kelahiran anakku kelak yang baru cair tadi :P. Dah gitu, aku gak bawa tas lagi. Masak sih aku tenteng ke rumah, atau aku simpan di saku celana...... It's too risky honey !!!
Aku inget aku punya account di BNI bawah. Lumayan, buat keamanan sampai besok, kan bisa jadi Safe Deposit Box.

Dengan semangat aku bersiap meluncur dari lantai 17 ke lantai G (ground ?). Lift pun terbuka. Eiiiiiitz. Aku lupa lom menghitung jumlahnya. Untung lift masih kebuka. Masih bisa ngitung bentar di kamar kecil. Hui hui hui......

Sampai di BNI, eh, kasirnya ganti. Agak gemukan tapi manis :P pakai jilbab tapi kudung gaul yang ... hi..... Di sebelahnya masih orang yang dulu.
Saat si kasir yang manis menghitung titipanku aku menyempatkan untuk membaca beberapa poster pelayanan BNI. Lom kelar aku baca, dia bilang "Ini terakhir dipakai Januari 2003 yah ?"

Hweh ? Dah satu tahun ? gak kerasa ! :P dan accountku gak pernah tak pakai ? hihihi.......... HANGUSSSS deh. Musti buka rekening baru deh. Mana gak ada KTP lagi.. Weh, mo disimpen di laci... aku gak bawa anak kunci... Trus gimana dong ?




02.09.04 (3:58 am)


tertunda   [edit]
Banyak sekali kerjaanku yang tertunda. Bukan karena waktuku yang habis karena pekerjaan lainnya. Tapi justru karena aku tak tahu ilmunya.

Ilmu pajak yang dulu kupelajari di kampus, yang kusangkakan tak kan pernah kutemui lagi, ternyata sekarang harus menjadi pekerjaanku yang selalu mengiringi. Aku lupa, apakah bendaharawan musti juga mungut PPN ? Trus kalau iya bukti pungutannya pakai apa ? Faktur Pajak ? Atau ?
Trus nanti musti bikin SPT Masa PPN dong....... huwehe.... telat lagi, kena denda 50.000 per spt.
Ps 21, Ps 22, PPN, huweeeee.......

Hix...hix...

Udah gitu, nanti akhir maret musti dah ngumpulin SPT Tahunan ....... Hueheheh........ kejam sekali dikau negaraku.....

Eh, pantes gak yah ? pajak disebut ilmu ?