Ini adalah sebuah episode dari romantika kehidupan anak manusia. Sebuah keinsyafan yang bertumpu pada satu keyakinan akan suatu nilai kebenaran. Ia terlahir dari sebuah insiden kecil. Dan benar-benar orang yang mau belajar dan mencari hikmah adalah orang yang beruntung. Kekasihku, aku makin mencintaimu.
Istriku menulis:
Robbii auzi'nii 'an ayskuro ni'mataka allaati an'amta alaiya wa 'alaa waalidayya wa'an a'mala shoolihan an tardhohu waashlihlii fii dzurriyyatii innii tubtu ilaika wainii minal muslimin.
Ya Allah.. ampunilah segala dosa-dosa hambamu ini. Kehidupan dunia, keindahan dunia telah melalaikan hamba ya Allah, hamba lupa akan ni'amMu yang serba banyak. Engkau telah memberi hamba seorang pendamping yang berhati mulia, tak pernah mengeluh, selalu mengalah, tak pernah marah dan yang selalu memberikan kasih sayangnya tapi apa balasan hamba kepadanya, hamba hanya bisa menuntut, menuntut, dan menuntut untuk sebuah kesempurnaan padahal dia hanya manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada yang sempurnah kecuali hanya Engkau ya Allah. Ya Allah ampunilah segala dosa- dosanya, lindungilah dia, jauhkanlah dia dari semua bahaya di sekelilingnya, jauhkanlah dia dari semua apa yang bukan menjadi haknya dan berikanlah dia balasan yang lebih dengan apa yang telah dia berikan kepada hamba dan anak hamba.Amin
Ummi sayang aba,ummi cinta aba...uhibbuka ya zaujii, mohon maaf atas semua kesalahan ummi.
Aku semakin yakin akan cinta istriku. Lihatlah betapa ia menyayangiku dengan memohonkan penjagaan terhadap segala mara bahaya, dari apa yang bisa membuatku terjerumus dari mengambil apa yang bukan hak. Bahkan bukan sekedar penjagaan, tapi juga untuk menjauh.
Kekasihku, bagimu ini adalah sebuah doa untuk orang yang kau cintai. Dan bagiku, ini adalah sebuah doa, dan nasihat dari orang yang kucintai. Uhibbuki yaa zaujati.
hm... dah lama banget gak pernah buka-buka halaman blogku. Mungkin karena kesibukan atau memang gak terlalu banyak hal-hal yang begitu menyita perhatian.
Gak seperti dulu, saat kebanyakan waktuku kuhabiskan sendiri, seorang diri. Dahulu, teman sejatiku tak lebih dari tumpukan buku yang terkadang kubiarkan berserak di lantai kamarku, atau bahkan bersama menikmati kerasnya kasur di kamar kosku. Dengan impian yang nyaris habiskan setiap waktu luang, sering kali kutuliskan baris-baris cinta yang tak tersampaikan. Kesendirianku membuatku lebih sering mengabadikan sejarah dalam berkas-berkas yang pernah kucoba tuk kusatukan.
Mungkin karena sekarang waktuku lebih jarang untuk menyendiri. Pagi hari ketika membuka mata, aku sudah bisa mendapati putriku Aisyah Muthia yang terkadang lebih dahulu menyapaku dengan senyumnya yang kurasa lebih mirip milikku daripada milik umminya. Atau di lain kali ia membangunkanku dengan jerit tangisnya yang nyaring seperti suara umminya :P. Dan Nailatul Izzah kekasihku, ia akan terus bersamaku hingga aku berangkat memenuhi kewajibanku.
Sepulang kerja, aku biasa mendapati senyum manis putriku dan wajah ayu istriku menyambut. Untuk kemudian, aku bersama mereka hingga tiba waktu istirahat. Jika Aisyah kecilku terlelap lebih dahulu, itu adalah saatku bercengkerama dengan belahan jiwaku.
Dan kesendirianku, ada di tempat kerja dan sepanjang jalan yang berdebu.
Dan kini, aku kembali ke blogging. Kenapa? Kesendirian. Ya, tempat kerja adalah satu di antara saat-saat sendiriku. Telah lama kuhabiskan waktu jika pekerjaan telah terlalu banyak menyita pikiran, dengan menjelajahi halaman-halaman friendster untuk mencari teman lama yang mungkin ada di belahan dunia maya yang lain. Mengisi bulletin, dan manghabiskan waktu dengan soal-soal konyol. Itulah aku.
Dan agaknya aku merindukan saat-saat dulu aku lebih sering bercerita. Teman-teman IRC-ku yang membawaku ke dunia blogging. Duh, aku merindukan kalian....
Aku kembali ke halaman-halaman pucat blogku. :)